PUISI
Hari Baru
Aku seakan tak bisa berbuat apa-apa
Jika puisiku berisikan dirimu
Aku tak pernah menyesal
Jika pernah berkali-kali jatuh cinta padamu
Berkali-kali lupakan rasa sakitku
Rasa sakit terabaikan olehmu
Karena hanya aku…
Yang merasa miskin tanpa kabar mu
Namun, kali ini
Hatiku yang bernafsu memilikimu
Memilih untuk mengikhlaskanmu
Aku percaya
Kau akan bahagia
Dan aku pun akan bahagia
Dengan jalan yang telah digariskan-Nya
Kau percaya ?
Bahwa dulu aku selalu mencintaimu dalam diamku
Dengan bayangan-bayangan semu di setiap ingatanku
Namun sepertinya
Garisku bukan padamu
Garismu bukan padaku
Aku bukan pencinta yang baik
Aku sekarang telah pergi
Berhenti
Meneriakkan namamu di setiap detik
Aku bukan mati rasa
Syukurnya tak lagi rasakan sakit itu
Aku yakin duka dari segala luka ini telah mengering
Kau tahu
Aku sangat lepas
Beban selama ini terangkat dari tempat mereka
Karena aku telah berdamai dengan perasaan yang pernah ada
Aku telah membangun dan mencintai diriku kembali
Halo ?
Bait demi bait aku tulis
Kekasih hati, bersarang di kalbuku
Penuh,sesak, dan sejuk
Siapakah ia ?
Tulisan ini membawa harapan
Seperti sebuah lagu, ia membuatku tak bersuara
Aku lemah
Irama lagu ini masuk begitu saja dalam relung hatiku
Tuhan… engkau pembunuh sepiku
Cintamu lampaui cinta makhluk yang lain
Kasihmu tak putus di makan congkaknya sifatku
Bisakah aku membuat permintaan
Memang banyak pintaku
Tapi…
Ini kalut.
Kau gariskan jalan hidupku
Lurus dan berkelok-kelok
Terlalu jauhkah aku dari jalan itu ?
Hanya dan hanya…
Seuntai kata, sejuta makna
Terkadang aku menjauh
Kadang pula aku berlari mendekat
Siapa aku ini ?
Seperti sampah yang busuk hari kemarin
Ketika telah rapuh
Aku berbaris paling depan
Dan itu terulang kembali
Tuhan, engkau jangkau pikiranku, lebih dari yang ku bayangkan
Engkau lukis kebagiaanku kini dan nanti menurut versi Mu
Tuhan, aku ingin seperti ini…
Tenggelamkan aku dalam rasa syukurku
Hari Itu
Angin malam menembus jendela kecil malamku
Ia membawaku untuk mengenang
Mengapa hanya aku yang hatinya sakit seperti ini
Kau tidak
Aku ingat ketika langkah kaki meninggalkan jejak sejarah kehidupanku
Aku diam sesaat
Tak mampu berkata banyak
Namun ku biarkan kau pergi
Hilang, bayangan pun tak tampak
Saat dunia memaksaku untuk menangis
Aku ingin teriak , aku tak bisa lagi
Ku teteskan air mata
Namun, tak tau di mana sumur air mataku
Aku tak sedih kau pergi
Hanya tak sadar aku sering merindukanmu
Namun, ku tak ingin bersamamu lagi
Kesempatan keduaku telah ku anggap hilang
Sejak hari itu
CERPEN
Hari Jadi
Ada apa dengan diriku
Aku merasa baik – baik saja
Justru, aku begitu karna aku sangat sayang
Namun, beberapa halaman yang tertulis begitu
buruk
Aku bosan membahasnya. Ini persoalan yang tak kunjung berhenti
dibicarakan oleh banyak orang. Namun nyatanya aku masih saja membahasnya.
Karena memang saat ini aku mengalaminya. Sejarahnya saja sangat tua, setua
sejarah manusia. Aku bahkan sedikit muak.
“Kita berakhir !”
“Kita punya jalan yang berbeda”
“Kurasa kita sudah tak cocok lagi”
“Kamu,
berubah !”
Banyak kata yang bisa diungkapkan, yang intinya hubungan yang terjalin harus
berakhir dan biasanya di akhiri secara sepihak. Tak mengerti jelas apa
permasalahannya. Mengingatnya, aku semakin terluka saja.
Masa SMA memang manis bagi kebanyakan muda-mudi, aku juga setuju. Namun manis
pun bisa menjadi pahit. Memang manis itu berada diawal. Aku pikir, aku tak
pernah salah, aku bersikap sewajarnya. Mungkin ini karena mereka tak mengerti
saja. Sempat terlintas, aku ingin istirahat dulu, break sejenak. Masa
depan saja, masih aku pertanyakan, apakah akan MADECE atau MADESU. Terkadang aku masih suka pesimis, jika aku lulus nanti apa ada sekolah yang
ingin menerima ku sebagai pengajar, aku ini dapat dikatakan seorang lulusan
rendahan jurusan sosiologi. Bahkan aku mengakui bahwa untuk memahami
keadaan hidupku sendiri saja aku masih suka pusing memikirkannya
Ini gambaran cerita cinta putih abu-abu. Menyukai kaka tingkat
di sekolah.
“Sayang.... dimana ?”
5 menit menunggu.Aku kirim SMS lagi.
“Dimana kamu ?”
“Sayang, lg ngapain dmna ????”
Tak mendapat respon membuatku berpikir keras, dan emosi yang
telah naik hingga mencapai di ubun-ubun kepalaku.
Beberapa kali ditelpon hanya “tut...tuttt....tutttttt”. Akupun
diam diselimuti rasa penasaran dan kesal. Seharian tak ada kabar. Disekolah pun
tak bisa ditemui.
“Aku cek aja deh di medsos dia”. Dan setelah ide itu aku
aplikasikan, aku menemukan sesuatu yang sangat membuat diri ini kecewa .
Aku pun menulis status di berbagai media sosial milikku.
“Kali ini, maafkan jika tangan ini, yang tak bisa berhenti
untuk lebay. Ketika aku sudah mulai
DIAM, itu karena aku KECEWA dengan keadaan
!!!. Kekecewaan yang tak bisa dinikmati hari ini. Karena tak ada janji yang
dapat mengatasi kecewanya perasaan.”
Tak lama sejak perdebatan itu playboy
kampung itu mengakhiri semuanya.Walaupun ia merupakan cinta pertamaku, tapi
hanya 1 bulan waktu yang disediakan Tuhan untukku bisa bersamanya. Setelah itu,
aku naksir tak karuan dengan mereka siapa saja yang berhasil mencuri perhatianku.
Termasuk kaka kelas,yang namanya cukup tak asing didengar, Arif. Tapi kisah
cinta tak pernah sampai, karena sudah ditikung duluan sama sahabatku sendiri. Resekkk
!.
Transisi ke dunia perkuliahan, sedikit
ceria juga saya gan. Perlahan, pemulihan diri dari tekanan kemaren
mulai dilakukan. Seolah tak jera dengan cinta pertama yang gagal, kali ini harapan
mulai tumbuh, dan berkembang. Sama-sama mahasiswa baru, satu jurusan pula.
Namun, awal yang baik tak selalu bisa berakhir dengan baik pula bukan. The
End.
“Kenapa mereka selalu bilang aku berlebihan ?”
“Tapi, berlebihan kamu kali ini sudah
kelewatan !”. Hanya itu jawabannya.
“Apa ada yang salah ? Toh masa PDKT saja
biasanya itu perempuan udah pada pede duluan. Aku sering bertanya dan
membuat jawabannya sendiri. Karena memang perempuan kalau sudah suka sama
seseorang mulutnya seperti terompet. Cerita sana-sini sama teman-temannya.”
“Eh, aku suka lo sama dia. Menurut kamu gimana
? ”
Nah benarkan, padahal resikonya lumayan besar.
Pertama, tahan malu. Belum tentu taksiran kita juga suka. Malu lah sudah heboh
duluan. Yang kedua, agak ekstrim sih, siapa tau teman kita berbagi kisah
tentang dia, malah ikut-ikutan suka, karenakan yang awalnya cuma
penasaran-penasaran kecil, biasanya berlanjut dan meluas ke berbagai macam
perasaan lainnya. Eh, malah Dia yang jadian, apeeeeees.... apessss
banget !, kaya cerita aku dulu. Gina... Gina. Tega banget kalau di
ingat-ingat. Awalnya mau bantuin aku, ternyata.
Laki-laki agresif, cuma saat masa PDKT doang. Perempuannya
kalem, dan masih jaim. Tapi seiring berjalannya waktu, itu jutek, itu
sikap sok-sok jaim, dan sikap dingin lainnya akan berubah drastis. Si
laki-laki tadi? jadisering hilang-hilangan, jutek, susah di hubungi, dan
jarang memberi kabar, pokoknya nggak semanis dulu. Sudah transformasi.
Pengoleksi kebohongan, karena cowok pasti bohong, seperti kata Raditya Dika, di salah
satu Stand Up Comedy nya. Wajarlah, cintanya kini seakan ditelan usia.
Perempuan semakin tulus, rencana-rencananya
semakin banyak. Pas moment bahagia, peringatan yang biasa di kenal
dengan hari jadi hubungan atau Anniversary, entah 1 bulan, 3 bulan, 1
tahun, 1 abad, pokoknya hari penting tentang komitmen yang selama ini terjalin
ini cewek sudah antusias duluan, antusiasnya seperti menyambut perayaan tahun
baru. Pikirannya terus beangan-angan jauh. Doanya semoga terus awet, langggeng
sama dia, “ keep romantic sayang . Aaamiin.”. Itu deh pokoknya. Itu juga
yang aku alami.
Selalu mengabadikan saat-saat bahagia, bongkar
album foto yang ada di handphone, berbagi di sosial media. Bahkan
rela saja nabung, buat apa ? buat nanti pas hari H bisa ngerayain pakai kue atau
ngasih hadiah buat pasangan.
Semuanya ? Inisiatif perempuanlah.
Laki-lakinya ? Kalau ingat aja sudah syukur. Alhamdulillah banget. Kalau
aku, itu kalender sebelum hari H udah di kasih tanda. Terus mancing – mancing
cowoknya dengan ngasih tau. Kode gitu . Tapi apalah daya biar diingetin
kejutannya selalu cuma dari aku. Laki-lakinya sepertinya malas. Iya ?. Apa mereka
takut ngeluarin anggaran lebih ?. Tapi kan kejutan nggak harus mahal, buat
video anniv atau kreatifitas tulisan mungkin.
Hingga ini mantan aku yang ke tiga, Andi, satu
minggu sebelum hari jadi yang ke 1 tahun 1 bulan, dia mengakhirinya pas malam
minggu . Padahal udah diingetin dua hari lagi hari jadi kami tapi malah gitu.
Alasannya klasik, banyaklah, aku terlalu egois, dramatis, sok ngatur,sedang
LDR ( Long Distance Relationship) lah .
Tidaaaaaak ! , kali ini aku kena penyakit galau kronis. Kenapa mereka selalu
mengakhirinya saat suasana hari jadian ?.
“Kangen, nggak harus balikan
Dekat, nggak harus jadian
Dekat, nggak harus jadian
Move On, nggak harus cari pelarian
Kalian mengertikan apa maksudnya ?”
Kata-kata itulah yang bisa mewakili perasaanku.
Pemahaman yang selalu aku berikan untuknya. Walaupun aku tipekal perempuan yang
susah bangkit dan move up dari yang namanya kenangan. Tapi aku masih
saja tak mau balikan dengan mantan-mantan itu.
Hingga mantan yang berat untuk aku sebut
namanya. Giliran kali ini aku yang berani bilang putus. Aku memang sangat suka
dengan sifatnya yang apa adanya, terbuka, dan orangnya sangat asyik, seiramalah
dengan sikapku, tapi dia sudah mulai bergaya pacaran ala dokter-dokteran. Aku
jijik dengannya. Pantas saja lah ia begitu, pengoleksi bokep. Kurang
kerjaan memang. Apa dia pikir karena aku mudah dirayu dan digombali aku akan mau
diperlakukan seperti itu ?. Salah bung !. Aku masih ingin melihat cahaya
terang di masa depanku yang belum menjanjikan ini.
***
Kurang lebih 3 bulan lagi. Aku mulai sibuk ikut
mengurus pernikahanku. Jangan kaget. Aku sendiri masih tak percaya dengan
keputusanku ini. Sebagai seorang perempuan yang belum sukses, aku berani
menerima pinganan dari Dika, karena Dika dapat dikatakan sebagai laki-laki yang
telah mapan. Ia seorang teller di salah satu bank syari’ah di kotaku. Tak ada
alasan yang cukup untuk menolaknya, walaupun masa pacaran kami bahkan belum
genap 4 bulan. Aku merasa saat-saat seperti inilah yang sangat aku
rindukan sejak dulu. Doaku mungkin telah didengar. Terima kasih Tuhan. Awalnya
keluarga cukup berat menerima keputusanku ini. Namun akhirnya mereka
menyetujuinya. Dengan sebuah janji untuk tetap meneruskan kuliahku. Aku pikir
saat ini aku bisa menjalaninya dengan perlahan, karena yang berat dari
perkuliahan kini yakni menyelesaikan sisa tugas mahasiswa tua kebanyakan adalah
tugas akhir nantinya, Skripsi.
***
Tepat tanggal 11 Desember , aku sadar hari ini
aku sangat cerewet. Dika pun sepertinya merasa pusing , telinganya mungkin juga
sangat panas mendengarkan segala kecerewetanku. Tak ayal hari ini hampir
seharian penuh, kami berdebat tentang hal yang sepele.
“ Ra, tolonglah sepertinya konsep yang kamu
pilih terlalu… gimana ya ? Menurut aku kurang pas aja.”, Dika pun
menunjukkan ketidaksukaanya itu.
“ Kamu nggak percaya ya sama
aku. Aku suka sama konsep ini. Bukannya kamu tau selera aku gimana ?” ,
aku semakin ngotot.
“ Ra... ?, Dika menatapku.
Aku merasa tak perlu menjawabnya, akupun melempar pandanganku bukan pada kedua
mata hitamnya itu.
Aku diam. Aku harap dia tau
makna akan kebisuanku ini.
“Hmmmmm” , Dika terdengar
menarik nafasnya dalam-dalam. Seperti ingin meredam emosinya. Emosinya jadi
naik karena aku. Ia pun mengakhiri perdebatan kami yang sudah tak sehat ini.
“ Baik, oke oke, ya udah, aku
ikut mau kamu, tapi boleh kamu ikut kemauan aku, keputusan untuk baju nanti ,
jas yang aku pakai bukan warna putih ya Ra ? Mungkin hitam.”
“ Haaa... ? Aku tercengang.
“ Haaa... ? Aku tercengang.
“ Dika, kamu kan tau baju aku
nanti warnanya peach, nah cocoknya itu sama warna putih. Kamu gimana sih
!”
“Nah, kamu aja bisa milih ini itu. Ra, kamu tolonglah jangan egois kaya gitu”
“Kamu juga nggak mau ngalah sama aku,” mungkin benar detik ini aku hanya ingin didengar, yang ada saat ini hanyalah keegoisanku.
“Nah, kamu aja bisa milih ini itu. Ra, kamu tolonglah jangan egois kaya gitu”
“Kamu juga nggak mau ngalah sama aku,” mungkin benar detik ini aku hanya ingin didengar, yang ada saat ini hanyalah keegoisanku.
Dika sepertinya sudah sangat pusing. Aku masih
saja dengan wajah yang berlipat-lipat ini. Dika pun memilih untuk bersandar di
sofa dekat pintu gedung tempat kami akan melangsungkan pernikahan
nantinya. Akhirnya, ia pun mengalah, dia setuju sajalah, dia minta maaf karena
sudah meluapkan emosinya tadi. Dika berusaha membujukku agar kembali tersenyum
tapi aku hanya mampu membalasnya dengan sunggingan kecil, aku menamparnya
dengan kebisuanku dan lekukan kecil di bibirku , aku telah membisu seratus
miliyar bahasa. Tetap saja suasana jadi tidak senyaman awal keberangkatan kami
hari ini.
“Sayang, aku beli minum dulu ya ?”
“Dimana ?”, tanyaku singkat dan terkesan cetus.
“Itu, di seberang sana”. Ia menunjukkan
tangannya kearah luar.
15 menit berlalu ,sembari duduk, aku mencoba
mencerna kata-kata Dika tadi. Dia benar, saat ini aku masih mementingkan apa
yang menjadi inginku. Akupun keluar dari gedung , ketika berada diluar
gedung aku melihat kerumunan orang yang ramai di seberang
jalan, 'kecelakaan tabrak lari'. Aku pun ikut berdesakan diantara kerumunan itu
.
Tiba – tiba aku merasakan lutut ini sangat
rapuh, ia tak mampu lagi membuatku berdiri. Aku melihat dua jus jeruk manis
kesukaanku dan Dika jatuh dijalan yang beraspal ini. Tak terasa isak tangisku
menjadi-jadi. Aku begitu histeris .Jaket Dika yang aku gunakan untuk menutupi
kepalanya penuh dengan darah yang terus mengalir. Sepertinya aku sudah tak
sadarkan diri. Aku hanya melihat Dika yang berusaha memberikan senyumannya ,
dan tanganku yang terus bergetar dengan hebat. Jalan yang harus ku lalui saat ini
sangat pedih. Aku semakin pilu. Sebelum mobil yang kami tumpangi sampai kerumah
sakit, Dika pun meninggalkanku terlebih dulu , meninggalkan semua kenangan,
meninggalkanku dan cita-cita yang belum terwujud. Aku menangis
sejadi-jadinya. Rencana hanya tinggal rencana.
Tapi, Tuhan bahkan rasanya
bukan seperti aku terjatuh
Hanya merasa mendunnglah yang
terus menemaniku disetiap pagi hingga malam
Mungkin aku telah terbang
tinggi bersama anganku
Pohonku telah diterpa angin,
angin yang terlalu ribut
Aku ingin menangis, Tuhan
Aku ingin berteriak
* * *
Kejadian itu memang membuatku hancur, pahit
untuk melanjutkan hidupku. Orang tua dan keluarga sangat panik dengan keadaanku
kini. Benar-benar diluar rencana. Aku terus menyalahkan diriku sendiri atas
kejadian yang terjadi. Hingga saat polisi berhasil menemukan pelaku tabrak lari
itu. Ia Fandi. Mantan aku. Aku ingat saja dulu aku dengannya berakhir karena
keberanian mengatakan putusku tumbuh. Aku mendapati ia adalah maniak porno. Aku
mendapati ia menyimpan video yang tak sepantasnya untuk disimpan. Aku benar-benar
tak mengerti, apa ini ?. Saat ini hanya kerapuhan yang ada. Hal ini membuatku
menunda skripsi yang akan aku susun.
***
Akhirnya aku wisuda. Butuh proses. Namun, orang
terdekat adalah orang-orang yang membuatku kembali berani berdiri menatap
matahari pagi ini.Rasa bahagia, haru, bercampur jadi satu. Walaupun hari ini
aku masih saja terlihat tersenyum hambar.
Life must still go on, hidup memang tetap harus
berjalan karena waktu terus berputar. Aku melamar pekerjaan di sekolah tingkat
menengah pertama yang dulunya merupakan tempat aku menutut ilmu selama kurang
lebih 3 tahun. Aku kembali bersyukur, rahmat dari Tuhan masih ada untuk orang
sepertiku. Lampu itu memang sempat padam. Kekosongan kemarin sempat melanda
kehidupanku. Namun kini Tuhan telah mengganti bola lampu yang baru dan cahaya
dari-Nya membuat hidupku lebih terang dari sebelumya. Terima kasih Rabb.
* * *
Hari pertama akan mengajar, aku merasa bahagia
juga terharu. Semuanya menjadi satu, air mata kebahagiaan.
“Bismilahirrohmanirrohim. Ya Allah, mudahkanlah
segala pekerjaanku hari ini, aku akan berusaha agar yang kulakukan hari ini
adalah kebaikan.”
Takdir pun masih ajaib. Aku bertemu dengan Gina.
Ya, mantan sahabatku.Eiiiits, 'yang dulu pernah menjadi sahabat', orang
terdekat di sejarah putih abu-abuku. Ternyata ia juga pengajar baru di sekolah
ini. Aku sangat bingung ketika tiba-tiba saja melihatnya. Aku bingung bagaimana
harus bersikap. Kaca yang pecah, memang akan sulit untuk disatukan kembali.
Kuakui suasana seperti ini lebih sulit daripada harus bertemu kembali dengan
mantan kekasih.Suerrrr!.
Pelan-pelan, karena memang muslim itu
bersaudara, hubungan kami kini membaik walaupun hanya sebagai rekan kerja.Memang
akan sulit untuk lebih dari itu.
Tiba – tiba ditengah obrolan kami yang sekarang
mulai bersahabat ini Gina mengatakan sesuatu yang katanya penting untuk
disampaikan.
“Ra, ada yang kamu belum tau dari kejadian yang
udah terjadi 10 tahun yang lalu. Aku mau jujur sama kamu. Maaf Ra”. Mata Gina
pun berlinang dengan kilatan air mata yang menggantung disana.
“Saat kamu minta aku cari tau tentang Arif.
Hingga aku pacaran sama dia. Dia nggak tau apapun segala hal tentang kamu.
Bahkan aku tak pernah menyinggung soal kamu. Aku saat itu murni ngedeketin
Arif, atas nama diri aku sendiri. Maaf Ra, aku kemaren menyesal banget sama
keputusan aku. Ra, Maafin aku...”
“Ya sudahlah Gin, yang berlalu biarlah
berlalu”. Nggak usah diungkit lagi. Oh ya, kamu tau gimana kabar Arif sekarang
?
“Dia ?, Arif sekarang baik – baik aja, dia
juga akan segera ngajar disini juga.”
“Hah..?, kamu bercanda keterlaluan Gin”. Aku
merasa bingung dengan yang dikatakannya.
“Iya Ra, aku nggak bercanda ...”
“Kamu tau Ra, aku sama Arif mau nikah sebentar
lagi. Tapi, tiba-tiba aja orang tua Arif maksa dia buat nikahin dia dengan
pilihan orang tuanya. Gina pun menunduk dan memelukku sambil berkata.
“Raaa…. Dia dateng. Pangeran bersayap lo
dulu.”.
Tak lama sosok laki – laki
tampan, tegap, menyapa kami berdua. Senyumnya masih seperti dulu. Sangat ramah.
Gina membisikkan sesuatu ketelingaku.
“Sekarang bude yang jadi mak comblang kalian”. Gina pun tersenyum usil
menggodaku. “Aku sedikit bohong maaf ya… Aku sama dia jadiannya sebentar kok
beb cuma hitungan minggu. Dia cocoknya sama kamu.”.
Berhasil sajalah . Bersatulah guru Olahraga itu denganku. Tak lama, aku
mengikat janji suci dengannya. 2 tahun telah bersama. Cobaan itu datang karena
Mas Arif terpaksa dirawat inap di rumah sakit karena penyakit tumor yang
bersarang di kepalanya, yang menurut pemeriksaan MRI, kini berdiameter 3,50 cm.
Aku terus saja membujuk Mas Arif untuk ikhtiar melakukan operasi. Walaupun
menurutnya itu tak perlu, dan keluargapun juga takut, karena resiko operasi
terlalu tinggi. Banyak pasien yang mengalami hilang ingatan atau laterdasi
mental. Namun, akhirnya keputusan inilah yang memang harus diambil. Sisanya kita
tawakalkan saja kepada-Nya.
Hari operasi pun tiba. Keluarga berkumpul. Aku
sangat takut. Jantung ini bahkan terus berdegup sangat kencang. Aku terus
menyalahkan diriku. Aku pun malah pingsan, tubuh ini sangat lemas, dan aku
merasa sangat mual akhirnya karena terlalu lemah aku juga mendapat perawatan.
Ah, bodohnya aku. Kabar gembira itu pun datang, operasi berjalan lancar. Walaupun
masih ada sisa jaringan tumor yang tak dapat diambil. Aku terus meminta
maaf kepada suamiku, jika selama ini aku kurang memperhatikannya. Aku
mungkin masih sedikit trauma dengan keagresifanku yang dulu selalu diprotes. Bahkan
dulu temanku pernah bilang “ Kamu ini gadis yang cantik dan pintar Ra,
namun kamu ini seperti anak kecil yang menaruh gelas di pinggir meja. Tau ?.
Bukan ditengahnya. Gelas itu bisa jatuh karena kamu, mungkin juga orang
lain". Suamiku memaafkanku dan aku berjanji akan berusaha menjadi seperti apa
yang memang kewajibanku sebagai istri yang baik.”
* * *
Ini jelas berbeda. Tulus 100% itu boleh.
Menjalin komitmen serius lebih pada pengertian, pemahaman yang luas ,
kepercayaan, dan pikiran yang positif serta bijak, tanpa emosi. Apa
aku begitu ? Pernah dibilang agresif ? aku selalu bertanya-tanya. Terlalu
dominan, posesif, egois, sikap yang over dramatis dan lebay
!. Hingga kicauan gombal aku makan itu semuanya. Namanya saja manusia, bukan
malaikat. Pengkhiantan dari orang lain yang disayang bisa saja terjadi. Namun,
tak pernah salah kan memberikan ketulusan sepenuhnya. Itu kelebihan kita
sebagai perempuan . Perempuan agresif, memang terkenal murahan, cerewet, dan
gampang di bodoh-bodohin. Karena ia sangat kentara, cintanya itu mudah dibaca,
cinta tulus murni 100%. Tapi justru aku tahu, memang mencintai itu harus menjadi
apa adanya. Memberi bukan meminta. Aku masih lucu ketika mengingatnya, susah
untuk move up, suka stress sendiri , bahkan terkadang karena memikirkan
sesuatu yang tak pasti, aku sering mengalami insomnia. Apa hanya aku perempuan
yang mengalaminya ?. Entahlah.
Pagi…
Ku buka pagiku dengan sedikit
keraguan
Namun tetap berlalu menjadi
sebuah kekuatan hati
Hal yang merubah diri
kembali
Hal yang membuat hidup
menjadi gairah
Meskipun sulit
Terkadang jatuh
Dan jatuh
Namun, tetap ingin bangun
Biarlah ini berlalu
Jalan yang jujur
Jalan yang jujur
Ini terkadang juga salah
Tapi itulah jalan
Apalagi jalan manusia
Selamat, dan bersyukur atas
hidup ini
* * *
“ Selamat Hari jadi sayang . Hari ini adalah
ulang tahun kita , Anniversary kita . Tepat 3 tahun.”
Lamunanku buyar, melihat Mas Arif bertingkah
seperti anak-anakku yang bejoget tak jelas, Hafidz dan Hafidzah. Iya, mereka
kembar pengantin. Setelah kurang lebih 2 tahun menanti, akhirnya Tuhan
mengizinkan kami, hadirlah bocah-bocah cilik yang kini berusia 1 setengah tahun
dalam kehidupan ini. Aku pun tertawa melihat tingkah mereka. Sambil membawa kue
yang cukup besar, Mas Arif memberikanku kertas yang ternyata adalah sebuah
puisi, begitu manisnya kejutan Anniversary kali ini.
Kekasih hati
Teman hidup
Setiap hari aku
melihatmu
Mengenalmu lebih
Perasaan tua yang harus
kita semai
Agar tak mati
Karna aku tak ingin ia
mati
Biar waktu yang
memutuskan
Kapan kita akan
menyudahinya
Berharap, mautlah yang
menjadi alasan kita berpisah
Kita tau jam terus
berputar
Karena kehidupan akan
terus berlanjut
Apa kau masih ingin tua
bersamaku
Bahkan kau tau, disaat
aku semakin tua aku mungkin akan cerewet melebihi dirimu
Bunda....
Kasihku Rara...
Namamu bukan hanya
sekedar nama
Bak perisai
Itulah ketangguhan
hatimu
Bunda ... bukan tidak
punya perasaan
Atau hati yang terbuat
dari baja
namun kau tegar
Kau tau, dirimu merasakannya
Kesedihan, luka yang
pernah ada
Tak perlu menangis untuk
menunjukkan kesedihan
Tak perlu meratap dalam
setiap cobaan
Karena garis-Nya tak
pernah salah
Ia beri, karena kau kuat
Maafkan aku...
Jika selama ini belum
mampu memberikan yang terbaik
Menyusahkanmu
Membuat harimu sulit
mendapat cahaya matahari
Namun, aku ingin bisa
terus membahagiakanmu, membuat lekukan diujung bibirmu
Jika mungkin tak banyak
waktu untuk kita berbagi kisah
Namun, lewat tulisan ini
aku akan mengatakan cinta sejati itu ada
Tuhan sangat baik ,
menghadirkanmu mengisi kehidupanku
Membuatnya seperti
pelangi
Bahkan kini seperti
taman bunga, tanaman bunga itu terus mekar dan mekar
Kupu-kupunya pun ikut
menggelitikku
Itulah cinta
Walaupun ia tak memiliki
teori pasti
Namun kita harus
meyakini bahwa ia adalah ketulusan
Yang bahkan sulit untukku
verbalkan
Karena begiu hebat
keluasannya
Ku ingin terus bisa
bersamamu...
Tuhan izinkan aku terus
melihat senyum manisnya
Malam
ini pun aku menulis surat untuk Dika…
Dika….
Aku bukan pencinta yang baik
Kini, aku mulai berhenti meneriakkan namamu
Saat ku pegang erat cintaku ia hilang
Karena cinta datang terlambat dan pergi begitu
cepat
Memang terkadang hidup terasa
sunyi
Hanya dengan bernyanyi semua jadi terisi
kembali
Kadang..aku ingin berhenti bernyanyi
Berhenti bernyanyi dilautan air mataku
Tapi tak kita ingat lagi rasa sakit yang lalu
Belajar menjadikan hidup, hidup menjadikan
pelajaran
Karna hidup itu perjuangan yang panjang
Dalam hidup akan tersedia banyak opsi, berjuta
pilihan
Tangan, hati, pikiran
Merekalah yang akan beradu untuk menjemput apa
yang namanya keputusan
Bukan luka yang terlalu sempurna
Namun hatilah yang belum mampu menerima
Kita hanya perlu menunggu
Tanpa berputus asa
Seberapa yakin kah kita pada-Nya ?
Cinta yang hadir, yang baik untuknya dan
digantikan menurut versi-Nya ?
Aku tak merasa kecewa lagi
Tak merasa tersakiti lagi
Karna aku hanya ingin jawaban itu
Bukan sebuah rentetan janji
Yang selalu membuatku
bertanya
Bumi itu bulat
Jika memang ia ditakdirkan untukku, ia akan
kembali
Kini Tuhan gantikan sayapku yang telah rusak
Namun, bukan dengan sayap lagi
Apa kau melihatnya ?
Aku telah berdamai dengan semuanya
Aku melipat kertas ini. Dan aku mulai menulis puisi untuk suamiku yang sangat
istimewa…
SELESAI
A. Review Puisi dan Cerpen
Sekilas, ketika saya selesai menulis dan membaca
kembali puisi maupun cerpen ini, saya merasa cukup puas dengan karya saya. Jika harus mengomentarinya maka saya akan berkata bahwa puisi saya sudah cukup
baik. Namun, bisa saja berbeda di
mata orang banyak.
mata orang banyak.
1. Puisi “Hari Baru”
Puisi ini
sangat dekat dengan kehidupan kalangan muda, khususnya remaja yang sangat sulit
untuk menata kembali perasaan hatinya paska putus dari kekasihnya. Puisi ini
meggambarkan tokoh aku yang menceritakan fase patah hatinya, yang kini telah
berangsur kepada fase terobatinya luka di hatinya. Setelah perasaan hancur dan
hatinya terpuruk, kini telah tergantikan oleh semangat baru untuk menata
kembali hidupnya. Puisi ini sendiri dapat di kritik menggunakan jenis kritik
sastra mimetik, karena sangat dekat dengan apa yang terjadi di kehidupan.
2. Puisi ” Halo ?”
Judul dari puisi ini dalam puisi ini adalah
halo. Sang penyair menggunakan pilihan kata yang menarik untuk menggambarkan
apa yang sedang dialami tokoh aku. Saya menggunakan kata Halo untuk
menggambarkan seseorang yang sedang melakukan panggilan dengan Tuhan sang pencipta.
Pada bait pertama, terlihat penyair dengan kata imajisnya menggambarkan bahwa
ketika seseorang yang saya sebut kekasih hati, seseorang yang selalu ada di
hati, setia memenuhi pikiran, perasaan terdalamnya. Tokoh aku mampu merasakan
ketenangan di dalam batinnya. Ketika ia menerima hidayah, tidak banyak yang bisa
ia lakukan seperti kemampuan menolaknya. Makna itu tersirat pada kata “aku
lemah”. Namun, tokoh aku cukup senang, hingga akhirnya ia menyambut hidayah itu
dengan penuh kebahagiaan. Ia pun percaya akan garis Tuhan untuknya.
Puisi ini dapat di kritik menggunakan jenis
kritik sastra mimetik atau ekspresionistik.
3. Puisi “Hari Itu”
Berkaitan erat dengan suasana malam, yang
terkadang membuat kita mudah masuk ke dalam dunia khayalan. Dan kerap kita akan
termenung merenungi apa yang sudah terjadi dalam kehidupan. Kisah manusia
memang tak lepas dari kisah romantika. Saya melukiskan di tengah suasana malam,
tokoh aku terbawa akan lamunan panjangnya. Lamunan yang membuat hatinya perih
akan apa yang ia alami. Ketika kekasihnya di masa lalu pergi meninggalkan
kehidupannya. Walaupun kejadian saat itu telah lama, ia tahu ia masih
sulit untuk melupakan mantan orang terkasihnya tersebut. Ia mungkin merasa
rindu, namun kecewanya perasaan membuatnya tak ingin kembali merajut kembali
apa yang telah berakhir sebelumnya.
4. Cerpen “Hari Jadi”
Cerpen ini saya tulis dengan penuh pencurahan. Saya banyak menceritakan hal
yang semua perempuan ketahui. Bahwa pada saat perayaan hari jadi atau yang kita
sebut dengan Anniversary, para perempuan lah yang lebih banyak menaruh
perhatiannya pada hari spesial tersebut. Ketika ketulusan Tokoh Rara selalu
disalah artikan oleh para mantan kekasihnya. Jatuh bangun dalam romantika
percintaan sempat memmbuat Tokoh Rara, benar-benar jatuh. Namun, hingga akhirnya
ia menemukan seseorang yang mampu menerima sikap keagresifannya dalam menjalin
komitmen. Laki-laki beruntung itulah yang akhirnya memiliki Tokoh Rara dan
menjadi pendamping dalam hidupnya.
Cerpen ini saya
tulis dengan bahasa yang ringan dan mudah di mengerti. Saya mencoba jujur apa
adanya akan permasalahan yang sering terjadi dalam kehidupan perempuan dewasa.
Perasaan hancur, putus harapan karena terlalu membangun harapan yang terlalu
tinggi, dan hal lainnya yang menyelimuti kondisi sakit hati hingga kondisi
tersembuhnya hati itu yang menjadi sebuah keceriaan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar