Kamis, 10 Maret 2016

Puisi dan Cerpen


PUISI
Hari Baru          

Aku seakan tak bisa berbuat apa-apa
Jika puisiku berisikan dirimu

Aku tak pernah menyesal
Jika pernah berkali-kali jatuh cinta padamu
Berkali-kali lupakan rasa sakitku
Rasa sakit terabaikan olehmu

Karena hanya aku…
Yang merasa miskin tanpa kabar mu

Namun, kali ini
Hatiku yang bernafsu memilikimu
Memilih untuk mengikhlaskanmu

Aku percaya
Kau akan bahagia
Dan aku pun akan bahagia
Dengan jalan yang telah digariskan-Nya
Kau percaya ?
Bahwa dulu aku selalu mencintaimu dalam diamku
Dengan bayangan-bayangan semu di setiap ingatanku

Namun sepertinya
Garisku bukan padamu
Garismu bukan padaku

Aku bukan pencinta yang baik
Aku sekarang telah pergi
Berhenti
Meneriakkan namamu di setiap detik

Aku bukan mati rasa
Syukurnya tak lagi rasakan sakit itu
Aku yakin duka dari segala luka ini telah mengering

Kau tahu
Aku sangat lepas
Beban selama ini terangkat dari tempat mereka
Karena aku telah berdamai dengan perasaan yang pernah ada
Aku telah membangun dan mencintai diriku kembali


     Halo ?

Bait demi bait aku tulis
Kekasih hati, bersarang di kalbuku
Penuh,sesak, dan sejuk
Siapakah ia ?

Tulisan ini membawa harapan
Seperti sebuah lagu, ia membuatku tak bersuara
Aku lemah
Irama lagu ini masuk begitu saja dalam relung hatiku

Tuhan… engkau pembunuh sepiku
Cintamu lampaui cinta makhluk yang lain
Kasihmu tak putus di makan congkaknya sifatku

Bisakah aku membuat permintaan
Memang banyak pintaku
Tapi…
Ini kalut.

Kau gariskan jalan hidupku
Lurus dan berkelok-kelok
Terlalu jauhkah aku dari jalan itu ?
Hanya dan hanya…
Seuntai kata, sejuta makna
Terkadang aku menjauh
Kadang pula aku berlari mendekat

Siapa aku ini ?
Seperti sampah yang busuk hari kemarin

Ketika telah rapuh
Aku berbaris paling depan
Dan itu terulang kembali

Tuhan, engkau jangkau pikiranku, lebih dari yang ku bayangkan
Engkau lukis kebagiaanku kini dan nanti menurut versi Mu
Tuhan, aku ingin seperti ini…
Tenggelamkan aku dalam rasa syukurku






                                             Hari Itu

Angin malam menembus jendela kecil malamku
Ia membawaku untuk mengenang
Mengapa hanya aku yang hatinya sakit seperti ini
Kau tidak

            Aku ingat ketika langkah kaki meninggalkan jejak sejarah kehidupanku
            Aku diam sesaat
            Tak mampu berkata banyak 
            Namun ku biarkan kau pergi
 Hilang, bayangan pun tak tampak

Saat dunia memaksaku untuk menangis
Aku ingin teriak , aku tak bisa lagi
Ku teteskan air mata
Namun, tak tau di mana sumur air mataku

            Aku tak sedih kau pergi
            Hanya tak sadar aku sering merindukanmu
            Namun, ku tak ingin bersamamu lagi
            Kesempatan keduaku telah ku anggap hilang
            Sejak hari itu





CERPEN
Hari Jadi

Ada apa dengan diriku
Aku merasa baik – baik saja
Justru, aku begitu karna aku sangat sayang
Namun, beberapa halaman yang tertulis begitu buruk

Aku bosan membahasnya. Ini persoalan yang tak kunjung berhenti dibicarakan oleh banyak orang. Namun nyatanya aku masih saja membahasnya. Karena memang saat ini aku mengalaminya. Sejarahnya saja sangat tua, setua sejarah manusia. Aku bahkan sedikit muak.
            “Kita berakhir !”
            “Kita punya jalan yang berbeda”
             “Kurasa kita sudah tak cocok lagi”
 “Kamu, berubah !”
            Banyak kata yang bisa diungkapkan, yang intinya hubungan yang terjalin harus berakhir dan biasanya di akhiri secara sepihak. Tak  mengerti jelas apa permasalahannya. Mengingatnya, aku semakin terluka saja.
            Masa SMA memang manis bagi kebanyakan muda-mudi, aku juga setuju. Namun manis pun bisa menjadi pahit. Memang manis itu berada diawal. Aku pikir, aku tak pernah salah, aku bersikap sewajarnya. Mungkin ini karena mereka tak mengerti saja. Sempat terlintas, aku ingin istirahat dulu, break sejenak. Masa depan saja, masih aku pertanyakan, apakah akan MADECE atau MADESU. Terkadang aku masih suka pesimis, jika aku lulus nanti apa ada sekolah yang ingin menerima ku sebagai pengajar, aku ini dapat dikatakan seorang lulusan rendahan  jurusan sosiologi. Bahkan aku mengakui bahwa untuk memahami keadaan hidupku sendiri saja aku masih suka pusing memikirkannya
Ini gambaran cerita cinta putih abu-abu. Menyukai kaka tingkat di sekolah.

“Sayang.... dimana ?”
5 menit menunggu.Aku kirim SMS lagi.
“Dimana kamu ?”
“Sayang, lg ngapain dmna ????”

Tak mendapat respon membuatku berpikir keras, dan emosi yang telah naik hingga mencapai di ubun-ubun kepalaku.
Beberapa kali ditelpon hanya “tut...tuttt....tutttttt”. Akupun diam diselimuti rasa penasaran dan kesal. Seharian tak ada kabar. Disekolah pun tak bisa ditemui. 
“Aku cek aja deh di medsos dia”. Dan setelah ide itu aku aplikasikan, aku menemukan sesuatu yang sangat membuat diri ini kecewa .
Aku pun menulis status di berbagai media sosial milikku. 
“Kali ini, maafkan jika tangan ini,  yang tak bisa berhenti untuk lebay. Ketika aku sudah mulai DIAM, itu karena aku KECEWA dengan keadaan !!!. Kekecewaan yang tak bisa dinikmati hari ini. Karena tak ada janji yang dapat mengatasi kecewanya perasaan.”
Tak lama sejak perdebatan itu playboy kampung itu mengakhiri semuanya.Walaupun ia merupakan cinta pertamaku, tapi hanya 1 bulan waktu yang disediakan Tuhan untukku bisa bersamanya. Setelah itu, aku naksir tak karuan dengan mereka siapa saja yang berhasil mencuri perhatianku. Termasuk kaka kelas,yang namanya cukup tak asing didengar, Arif. Tapi kisah cinta tak pernah sampai, karena sudah ditikung duluan sama sahabatku sendiri. Resekkk !.
Transisi ke dunia perkuliahan, sedikit  ceria juga saya gan. Perlahan, pemulihan diri dari tekanan kemaren mulai dilakukan. Seolah tak jera dengan cinta pertama yang gagal, kali ini harapan mulai tumbuh, dan berkembang. Sama-sama mahasiswa baru, satu jurusan pula. Namun, awal yang baik tak selalu bisa berakhir dengan baik pula bukan. The End.
“Kenapa mereka selalu bilang aku berlebihan ?”
 “Tapi, berlebihan kamu kali ini sudah kelewatan !”. Hanya itu jawabannya.
“Apa ada yang salah ? Toh masa PDKT saja biasanya itu perempuan udah pada pede duluan. Aku sering bertanya dan membuat jawabannya sendiri. Karena memang perempuan kalau sudah suka sama seseorang mulutnya seperti terompet. Cerita sana-sini sama teman-temannya.”
“Eh, aku suka lo sama dia. Menurut kamu gimana ? ”
Nah benarkan, padahal resikonya lumayan besar. Pertama, tahan malu. Belum tentu taksiran kita juga suka. Malu lah sudah heboh duluan. Yang kedua, agak ekstrim sih, siapa tau teman kita berbagi kisah tentang dia, malah ikut-ikutan suka, karenakan yang awalnya cuma penasaran-penasaran kecil, biasanya berlanjut dan meluas ke berbagai macam perasaan lainnya. Eh,  malah Dia yang jadian, apeeeeees.... apessss banget !, kaya cerita aku dulu. Gina... Gina. Tega banget kalau di ingat-ingat. Awalnya mau bantuin aku, ternyata.
Laki-laki agresif, cuma saat masa PDKT doang. Perempuannya kalem, dan masih jaim. Tapi seiring berjalannya waktu, itu jutek, itu sikap sok-sok jaim, dan sikap dingin lainnya akan berubah drastis. Si laki-laki tadi? jadisering hilang-hilangan, jutek, susah di hubungi, dan jarang memberi kabar, pokoknya nggak semanis dulu. Sudah transformasi. Pengoleksi kebohongan, karena cowok pasti bohong, seperti kata Raditya Dika, di salah satu Stand Up Comedy nya. Wajarlah, cintanya kini seakan ditelan usia.
Perempuan semakin tulus, rencana-rencananya semakin banyak. Pas moment bahagia, peringatan yang biasa di kenal dengan hari jadi hubungan atau Anniversary, entah 1 bulan, 3 bulan, 1 tahun, 1 abad, pokoknya hari penting tentang komitmen yang selama ini terjalin ini cewek sudah antusias duluan, antusiasnya seperti menyambut perayaan tahun baru. Pikirannya terus beangan-angan jauh. Doanya semoga terus awet, langggeng sama dia, “ keep romantic sayang . Aaamiin.”. Itu deh pokoknya. Itu juga yang aku alami.
Selalu mengabadikan saat-saat bahagia, bongkar album foto yang ada di handphone,  berbagi di sosial media. Bahkan rela saja nabung, buat apa ? buat nanti pas hari H bisa ngerayain pakai kue atau ngasih hadiah buat pasangan.
Semuanya ? Inisiatif  perempuanlah. Laki-lakinya ? Kalau ingat aja sudah syukur. Alhamdulillah banget. Kalau aku, itu kalender sebelum hari H udah di kasih tanda. Terus mancing – mancing cowoknya dengan ngasih tau. Kode gitu . Tapi apalah daya biar diingetin kejutannya selalu cuma dari aku. Laki-lakinya sepertinya malas. Iya ?. Apa mereka takut ngeluarin anggaran lebih ?. Tapi kan kejutan nggak harus mahal, buat video anniv atau kreatifitas tulisan mungkin. 
Hingga ini mantan aku yang ke tiga, Andi, satu minggu sebelum hari jadi yang ke 1 tahun 1 bulan, dia mengakhirinya pas malam minggu . Padahal udah diingetin dua hari lagi hari jadi kami tapi malah gitu. Alasannya klasik, banyaklah, aku terlalu egois, dramatis, sok ngatur,sedang LDR   ( Long Distance Relationship)  lah  . Tidaaaaaak ! , kali ini aku kena penyakit galau kronis. Kenapa mereka selalu mengakhirinya saat suasana hari jadian ?.


“Kangen, nggak harus balikan 
  Dekat, nggak harus jadian
  Move On, nggak harus cari pelarian
  Kalian mengertikan apa maksudnya ?”
Kata-kata itulah yang bisa mewakili perasaanku. Pemahaman yang selalu aku berikan untuknya. Walaupun aku tipekal perempuan yang susah bangkit dan move up dari yang namanya kenangan. Tapi aku masih saja tak mau balikan dengan mantan-mantan itu.

Hingga mantan yang berat untuk aku sebut namanya. Giliran kali ini aku yang berani bilang putus. Aku memang sangat suka dengan sifatnya yang apa adanya, terbuka, dan orangnya sangat asyik, seiramalah dengan sikapku, tapi dia sudah mulai bergaya pacaran ala dokter-dokteran. Aku jijik dengannya. Pantas saja lah ia begitu, pengoleksi bokep. Kurang kerjaan memang. Apa dia pikir karena aku mudah dirayu dan digombali aku akan mau diperlakukan seperti itu ?. Salah bung !. Aku masih ingin melihat cahaya terang di masa depanku yang belum menjanjikan ini.

***
Kurang lebih 3 bulan lagi. Aku mulai sibuk ikut mengurus pernikahanku. Jangan kaget. Aku sendiri masih tak percaya dengan keputusanku ini. Sebagai seorang perempuan yang belum sukses, aku berani menerima pinganan dari Dika, karena Dika dapat dikatakan sebagai laki-laki yang telah mapan. Ia seorang teller di salah satu bank syari’ah di kotaku. Tak ada alasan yang cukup untuk menolaknya, walaupun masa pacaran kami bahkan belum genap 4 bulan. Aku merasa saat-saat seperti inilah yang  sangat aku rindukan sejak dulu. Doaku mungkin telah didengar. Terima kasih Tuhan. Awalnya keluarga cukup berat menerima keputusanku ini. Namun akhirnya mereka menyetujuinya. Dengan sebuah janji untuk tetap meneruskan kuliahku. Aku pikir saat ini aku bisa menjalaninya dengan perlahan, karena yang berat dari perkuliahan kini yakni menyelesaikan sisa tugas mahasiswa tua kebanyakan adalah tugas akhir nantinya, Skripsi.
                                                                                   ***
Tepat tanggal 11 Desember , aku sadar hari ini aku sangat cerewet. Dika pun sepertinya merasa pusing , telinganya mungkin juga sangat panas mendengarkan segala kecerewetanku. Tak ayal hari ini hampir seharian penuh, kami berdebat tentang hal yang sepele.
“ Ra, tolonglah sepertinya konsep yang kamu pilih terlalu… gimana ya ? Menurut aku  kurang pas aja.”, Dika pun menunjukkan ketidaksukaanya itu.
“ Kamu nggak percaya ya sama aku. Aku suka sama konsep ini.  Bukannya kamu tau selera aku gimana ?” , aku semakin ngotot.
“ Ra... ?, Dika menatapku. Aku merasa tak perlu menjawabnya, akupun melempar pandanganku bukan pada kedua mata hitamnya itu.
Aku diam. Aku harap dia tau makna akan kebisuanku ini.
“Hmmmmm” , Dika terdengar menarik nafasnya dalam-dalam. Seperti ingin meredam emosinya. Emosinya jadi naik karena aku. Ia pun mengakhiri perdebatan kami yang sudah tak sehat ini.
“ Baik, oke oke, ya udah, aku ikut mau kamu, tapi boleh kamu ikut kemauan aku, keputusan untuk baju nanti , jas yang aku pakai bukan warna putih ya Ra ? Mungkin hitam.”
  
“ Haaa... ? Aku tercengang. 
“ Dika, kamu kan tau baju aku nanti warnanya peach, nah cocoknya itu sama warna putih. Kamu gimana sih !”
  
“Nah, kamu aja bisa milih ini itu. Ra, kamu tolonglah jangan egois kaya gitu”

“Kamu juga nggak mau ngalah sama aku,” mungkin benar detik ini aku hanya ingin didengar, yang ada saat ini hanyalah keegoisanku.
Dika sepertinya sudah sangat pusing. Aku masih saja dengan wajah yang berlipat-lipat ini. Dika pun memilih untuk bersandar di sofa dekat pintu gedung tempat kami akan melangsungkan pernikahan nantinya. Akhirnya, ia pun mengalah, dia setuju sajalah, dia minta maaf karena sudah meluapkan emosinya tadi. Dika berusaha membujukku agar kembali tersenyum tapi aku hanya mampu membalasnya dengan sunggingan kecil, aku  menamparnya dengan kebisuanku dan lekukan kecil di bibirku , aku telah membisu seratus miliyar bahasa. Tetap saja suasana jadi tidak senyaman awal keberangkatan kami hari ini.
“Sayang, aku beli minum dulu ya ?”
“Dimana ?”, tanyaku singkat dan terkesan cetus.
“Itu, di seberang sana”. Ia menunjukkan tangannya kearah luar. 
15 menit berlalu ,sembari duduk, aku mencoba mencerna kata-kata Dika tadi. Dia benar, saat ini aku masih mementingkan apa yang menjadi inginku. Akupun keluar dari gedung , ketika berada diluar  gedung aku melihat kerumunan orang yang ramai di seberang jalan, 'kecelakaan tabrak lari'. Aku pun ikut berdesakan diantara kerumunan itu .
Tiba – tiba aku merasakan lutut ini sangat rapuh, ia tak mampu lagi membuatku berdiri. Aku melihat dua jus jeruk manis kesukaanku dan Dika jatuh dijalan yang beraspal ini. Tak terasa isak tangisku menjadi-jadi. Aku begitu histeris .Jaket Dika yang aku gunakan untuk menutupi kepalanya penuh dengan darah yang terus mengalir. Sepertinya aku sudah tak sadarkan diri. Aku hanya melihat Dika yang berusaha memberikan senyumannya , dan tanganku yang terus bergetar dengan hebat. Jalan yang harus ku lalui saat ini sangat pedih. Aku semakin pilu. Sebelum mobil yang kami tumpangi sampai kerumah sakit, Dika pun meninggalkanku terlebih dulu , meninggalkan semua kenangan, meninggalkanku dan cita-cita yang belum terwujud. Aku menangis sejadi-jadinya. Rencana hanya tinggal rencana.

Tapi, Tuhan bahkan rasanya bukan seperti aku terjatuh
Hanya merasa mendunnglah yang terus menemaniku disetiap pagi hingga malam
Mungkin aku telah terbang tinggi bersama anganku
Pohonku telah diterpa angin, angin yang terlalu ribut

Aku ingin menangis, Tuhan
Aku ingin berteriak

* * *

Kejadian itu memang membuatku hancur, pahit untuk melanjutkan hidupku. Orang tua dan keluarga sangat panik dengan keadaanku kini. Benar-benar diluar rencana. Aku terus menyalahkan diriku sendiri atas kejadian yang terjadi. Hingga saat polisi berhasil menemukan pelaku tabrak lari itu. Ia Fandi. Mantan aku. Aku ingat saja dulu aku dengannya berakhir karena keberanian mengatakan putusku tumbuh. Aku mendapati ia adalah maniak porno. Aku mendapati ia menyimpan video yang tak sepantasnya untuk disimpan. Aku benar-benar tak mengerti, apa ini ?. Saat ini hanya kerapuhan yang ada. Hal ini membuatku menunda skripsi yang akan aku susun.

***
Akhirnya aku wisuda. Butuh proses. Namun, orang terdekat adalah orang-orang yang membuatku kembali berani berdiri menatap matahari pagi ini.Rasa bahagia, haru, bercampur jadi satu. Walaupun hari ini aku masih saja terlihat tersenyum hambar.
 Life must still go on, hidup memang tetap harus berjalan karena waktu terus berputar. Aku melamar pekerjaan di sekolah tingkat menengah pertama yang dulunya merupakan tempat aku menutut ilmu selama kurang lebih 3 tahun. Aku kembali bersyukur, rahmat dari Tuhan masih ada untuk orang sepertiku. Lampu itu memang sempat padam. Kekosongan kemarin sempat melanda kehidupanku. Namun kini Tuhan telah mengganti bola lampu yang baru dan cahaya dari-Nya membuat hidupku lebih terang dari sebelumya. Terima kasih Rabb.


* * *
Hari pertama akan mengajar, aku merasa bahagia juga terharu. Semuanya menjadi satu, air mata  kebahagiaan.
“Bismilahirrohmanirrohim. Ya Allah, mudahkanlah segala pekerjaanku hari ini, aku akan berusaha agar yang kulakukan hari ini adalah kebaikan.”

Takdir pun masih ajaib. Aku bertemu dengan Gina. Ya, mantan sahabatku.Eiiiits, 'yang dulu pernah menjadi sahabat', orang terdekat di sejarah putih abu-abuku. Ternyata ia juga pengajar baru di sekolah ini. Aku sangat bingung ketika tiba-tiba saja melihatnya. Aku bingung bagaimana harus bersikap. Kaca yang pecah, memang akan sulit untuk disatukan kembali. Kuakui suasana seperti ini lebih sulit daripada harus bertemu kembali dengan mantan kekasih.Suerrrr!.
Pelan-pelan,  karena memang muslim itu bersaudara, hubungan kami kini membaik walaupun hanya sebagai rekan kerja.Memang akan sulit untuk lebih dari itu.
Tiba – tiba ditengah obrolan kami yang sekarang mulai bersahabat ini Gina mengatakan sesuatu yang katanya penting untuk disampaikan.
“Ra, ada yang kamu belum tau dari kejadian yang udah terjadi 10 tahun yang lalu. Aku mau jujur sama kamu. Maaf Ra”. Mata Gina pun berlinang dengan kilatan air mata yang menggantung disana.
“Saat kamu minta aku cari tau tentang Arif. Hingga aku pacaran sama dia. Dia nggak tau apapun segala hal tentang kamu. Bahkan aku tak pernah menyinggung soal kamu. Aku saat itu murni ngedeketin Arif, atas nama diri aku sendiri. Maaf Ra, aku kemaren menyesal banget sama keputusan aku. Ra, Maafin aku...”
“Ya sudahlah Gin, yang berlalu biarlah berlalu”. Nggak usah diungkit lagi. Oh ya, kamu tau gimana kabar Arif sekarang ?
“Dia ?, Arif sekarang baik – baik aja, dia juga  akan segera ngajar disini juga.”
“Hah..?, kamu bercanda keterlaluan Gin”. Aku merasa bingung dengan yang dikatakannya.
“Iya Ra, aku nggak bercanda ...”
“Kamu tau Ra, aku sama Arif mau nikah sebentar lagi. Tapi, tiba-tiba aja orang tua Arif maksa dia buat nikahin dia dengan pilihan orang tuanya. Gina pun menunduk dan memelukku sambil berkata.
“Raaa…. Dia dateng. Pangeran bersayap lo dulu.”.

Tak lama sosok laki – laki tampan, tegap, menyapa kami berdua. Senyumnya masih seperti dulu. Sangat ramah. 
            Gina membisikkan sesuatu ketelingaku.
            “Sekarang bude yang jadi mak comblang kalian”. Gina pun tersenyum usil menggodaku. “Aku sedikit bohong maaf ya… Aku sama dia jadiannya sebentar kok beb cuma hitungan minggu. Dia cocoknya sama kamu.”.
            Berhasil sajalah . Bersatulah guru Olahraga itu denganku. Tak lama, aku mengikat janji suci dengannya. 2 tahun telah bersama. Cobaan itu datang karena Mas Arif terpaksa dirawat inap di rumah sakit karena penyakit tumor yang bersarang di kepalanya, yang menurut pemeriksaan MRI, kini berdiameter 3,50 cm.
            Aku terus saja membujuk Mas Arif untuk ikhtiar melakukan operasi. Walaupun menurutnya itu tak perlu, dan keluargapun juga takut, karena resiko operasi terlalu tinggi. Banyak pasien yang mengalami hilang ingatan atau laterdasi mental. Namun, akhirnya keputusan inilah yang memang harus diambil. Sisanya kita tawakalkan saja kepada-Nya.
Hari operasi pun tiba. Keluarga berkumpul. Aku sangat takut. Jantung ini bahkan terus berdegup sangat kencang. Aku terus menyalahkan diriku. Aku pun malah pingsan, tubuh ini sangat lemas, dan aku merasa sangat mual akhirnya karena terlalu lemah aku juga mendapat perawatan. Ah, bodohnya aku. Kabar gembira itu pun datang, operasi berjalan lancar. Walaupun masih ada sisa jaringan tumor yang tak dapat diambil. Aku terus meminta maaf  kepada suamiku, jika selama ini aku kurang memperhatikannya. Aku mungkin masih sedikit trauma dengan keagresifanku yang dulu selalu diprotes. Bahkan dulu temanku pernah bilang  “ Kamu ini gadis yang cantik dan pintar Ra, namun kamu ini seperti anak kecil yang menaruh gelas di pinggir meja. Tau ?. Bukan ditengahnya. Gelas itu bisa jatuh karena kamu,  mungkin juga orang lain". Suamiku memaafkanku dan aku berjanji akan berusaha menjadi seperti apa yang memang kewajibanku sebagai istri yang baik.”
* * *
Ini jelas berbeda. Tulus 100% itu boleh. Menjalin komitmen serius lebih pada pengertian, pemahaman yang luas , kepercayaan,  dan pikiran yang positif  serta bijak, tanpa emosi. Apa aku begitu ? Pernah dibilang agresif ? aku selalu bertanya-tanya. Terlalu dominan, posesif, egois,  sikap yang over dramatis dan lebay !. Hingga kicauan gombal aku makan itu semuanya. Namanya saja manusia, bukan malaikat. Pengkhiantan dari orang lain yang disayang bisa saja terjadi. Namun, tak pernah salah kan memberikan ketulusan sepenuhnya. Itu kelebihan kita sebagai perempuan . Perempuan agresif, memang terkenal murahan, cerewet, dan gampang di bodoh-bodohin. Karena ia sangat kentara, cintanya itu mudah dibaca, cinta tulus murni 100%. Tapi justru aku tahu, memang mencintai itu harus menjadi apa adanya. Memberi bukan meminta. Aku masih lucu ketika mengingatnya, susah untuk move up, suka stress sendiri , bahkan terkadang karena memikirkan sesuatu yang tak pasti, aku sering mengalami insomnia. Apa hanya aku perempuan yang mengalaminya ?. Entahlah.

Pagi…
Ku buka pagiku dengan sedikit keraguan
Namun tetap berlalu menjadi sebuah kekuatan hati

Hal  yang merubah diri kembali
Hal yang membuat hidup menjadi gairah
Meskipun sulit
Terkadang jatuh
Dan jatuh
Namun, tetap ingin bangun

           Biarlah ini berlalu 
           Jalan yang jujur
Ini terkadang juga salah
Tapi itulah jalan
Apalagi jalan manusia
Selamat, dan bersyukur atas hidup ini
* * *
“ Selamat Hari jadi sayang . Hari ini adalah ulang tahun kita , Anniversary kita . Tepat 3 tahun.”
Lamunanku buyar, melihat Mas Arif bertingkah seperti anak-anakku yang bejoget tak jelas, Hafidz dan Hafidzah. Iya, mereka kembar pengantin. Setelah kurang lebih 2 tahun menanti, akhirnya Tuhan mengizinkan kami, hadirlah bocah-bocah cilik yang kini berusia 1 setengah tahun dalam kehidupan ini. Aku pun tertawa melihat tingkah mereka. Sambil membawa kue yang cukup besar, Mas Arif memberikanku kertas yang ternyata adalah sebuah puisi, begitu manisnya kejutan Anniversary kali ini.

Kekasih hati
Teman hidup


Setiap hari aku melihatmu
Mengenalmu lebih
Perasaan tua yang harus kita semai
Agar tak mati
Karna aku tak ingin ia mati


Biar waktu yang memutuskan
Kapan kita akan menyudahinya
Berharap, mautlah yang menjadi alasan kita berpisah


Kita tau jam terus berputar
Karena kehidupan akan terus berlanjut
Apa kau masih ingin tua bersamaku
Bahkan kau tau, disaat  aku semakin tua aku mungkin akan cerewet melebihi dirimu


Bunda....
Kasihku Rara...
Namamu bukan hanya sekedar nama
Bak perisai
Itulah ketangguhan hatimu


Bunda ... bukan tidak punya perasaan
Atau hati yang terbuat dari baja
 namun kau tegar


Kau tau, dirimu  merasakannya
Kesedihan, luka yang pernah ada


Tak perlu menangis untuk menunjukkan kesedihan
Tak perlu meratap dalam setiap cobaan
Karena garis-Nya tak pernah salah
Ia beri, karena kau kuat


Maafkan aku...
Jika selama ini belum mampu memberikan yang terbaik
Menyusahkanmu
Membuat harimu sulit mendapat cahaya matahari
Namun, aku ingin bisa terus membahagiakanmu, membuat lekukan diujung bibirmu


Jika mungkin tak banyak waktu untuk kita berbagi kisah
Namun, lewat tulisan ini aku akan mengatakan cinta sejati itu ada
Tuhan sangat baik , menghadirkanmu mengisi kehidupanku
Membuatnya seperti pelangi
Bahkan kini seperti taman bunga, tanaman bunga itu terus mekar dan mekar
Kupu-kupunya pun ikut menggelitikku


Itulah cinta
Walaupun ia tak memiliki teori pasti
Namun kita harus meyakini bahwa ia adalah ketulusan
Yang bahkan sulit untukku verbalkan
Karena begiu hebat keluasannya
Ku ingin terus bisa bersamamu...
Tuhan izinkan aku terus melihat senyum manisnya  



Malam ini pun aku menulis surat untuk Dika…


Dika….
Aku bukan pencinta yang baik
Kini, aku mulai berhenti meneriakkan namamu

Saat ku pegang erat cintaku ia hilang
Karena cinta datang terlambat dan pergi begitu cepat
Memang terkadang hidup terasa sunyi
Hanya dengan bernyanyi semua jadi terisi kembali
Kadang..aku ingin berhenti bernyanyi
Berhenti bernyanyi dilautan air mataku

Tapi tak kita ingat lagi rasa sakit yang lalu
Belajar menjadikan hidup, hidup menjadikan pelajaran
Karna hidup itu perjuangan yang panjang
Dalam hidup akan tersedia banyak opsi, berjuta pilihan
Tangan, hati, pikiran
Merekalah yang akan beradu untuk menjemput apa yang namanya keputusan

Bukan luka yang terlalu sempurna
Namun hatilah yang belum mampu menerima
Kita hanya perlu menunggu
Tanpa berputus asa
Seberapa yakin kah kita pada-Nya ?
Cinta yang hadir, yang baik untuknya dan digantikan menurut versi-Nya ?

Aku tak merasa kecewa lagi
Tak merasa tersakiti lagi
Karna aku hanya ingin jawaban itu
Bukan sebuah rentetan janji
Yang selalu membuatku bertanya

Bumi itu bulat
Jika memang ia ditakdirkan untukku, ia akan kembali

Kini Tuhan gantikan sayapku yang telah rusak
Namun, bukan dengan sayap lagi
Apa kau melihatnya ?
Aku telah berdamai dengan semuanya



Aku melipat kertas ini. Dan aku mulai menulis puisi untuk suamiku yang sangat istimewa…





SELESAI



A. Review Puisi dan Cerpen

Sekilas, ketika saya selesai menulis dan membaca kembali puisi maupun cerpen ini, saya merasa cukup puas dengan karya saya. Jika harus mengomentarinya maka saya akan berkata bahwa puisi saya sudah cukup baik. Namun, bisa saja berbeda di 
mata orang banyak.

1.      Puisi “Hari Baru”

       Puisi ini sangat dekat dengan kehidupan kalangan muda, khususnya remaja yang sangat sulit untuk menata kembali perasaan hatinya paska putus dari kekasihnya. Puisi ini meggambarkan tokoh aku yang menceritakan fase patah hatinya, yang kini telah berangsur kepada fase terobatinya luka di hatinya. Setelah perasaan hancur dan hatinya terpuruk, kini telah tergantikan oleh semangat baru untuk menata kembali hidupnya. Puisi ini sendiri dapat di kritik menggunakan jenis kritik sastra mimetik, karena sangat dekat dengan apa yang terjadi di kehidupan.

2.      Puisi ” Halo ?”

Judul dari puisi ini dalam puisi ini adalah halo. Sang penyair menggunakan pilihan kata yang menarik untuk menggambarkan apa yang sedang dialami tokoh aku. Saya menggunakan kata Halo untuk menggambarkan seseorang yang sedang melakukan panggilan dengan Tuhan sang pencipta. Pada bait pertama, terlihat penyair dengan kata imajisnya menggambarkan bahwa ketika seseorang yang saya sebut kekasih hati, seseorang yang selalu ada di hati, setia memenuhi pikiran, perasaan terdalamnya. Tokoh aku mampu merasakan ketenangan di dalam batinnya. Ketika ia menerima hidayah, tidak banyak yang bisa ia lakukan seperti kemampuan menolaknya. Makna itu tersirat pada kata “aku lemah”. Namun, tokoh aku cukup senang, hingga akhirnya ia menyambut hidayah itu dengan penuh kebahagiaan. Ia pun percaya akan garis Tuhan untuknya.
Puisi ini dapat di kritik menggunakan jenis kritik sastra mimetik atau ekspresionistik.
  
3.      Puisi “Hari Itu”

Berkaitan erat dengan suasana malam, yang terkadang membuat kita mudah masuk ke dalam dunia khayalan. Dan kerap kita akan termenung merenungi apa yang sudah terjadi dalam kehidupan. Kisah manusia memang tak lepas dari kisah romantika. Saya melukiskan di tengah suasana malam, tokoh aku terbawa akan lamunan panjangnya. Lamunan yang membuat hatinya perih akan apa yang ia alami. Ketika kekasihnya di masa lalu pergi meninggalkan kehidupannya. Walaupun kejadian saat itu telah lama, ia tahu ia masih sulit untuk melupakan mantan orang terkasihnya tersebut. Ia mungkin merasa rindu, namun kecewanya perasaan membuatnya tak ingin kembali merajut kembali apa yang telah berakhir sebelumnya.

4.      Cerpen “Hari Jadi”

        Cerpen ini saya tulis dengan penuh pencurahan. Saya banyak menceritakan hal yang semua perempuan ketahui. Bahwa pada saat perayaan hari jadi atau yang kita sebut dengan Anniversary, para perempuan lah yang lebih banyak menaruh perhatiannya pada hari spesial tersebut. Ketika ketulusan Tokoh Rara selalu disalah artikan oleh para mantan kekasihnya. Jatuh bangun dalam romantika percintaan sempat memmbuat Tokoh Rara, benar-benar jatuh. Namun, hingga akhirnya ia menemukan seseorang yang mampu menerima sikap keagresifannya dalam menjalin komitmen. Laki-laki beruntung itulah yang akhirnya memiliki Tokoh Rara dan menjadi pendamping dalam hidupnya.
      Cerpen ini saya tulis dengan bahasa yang ringan dan mudah di mengerti. Saya mencoba jujur apa adanya akan permasalahan yang sering terjadi dalam kehidupan perempuan dewasa. Perasaan hancur, putus harapan karena terlalu membangun harapan yang terlalu tinggi, dan hal lainnya yang menyelimuti kondisi sakit hati hingga kondisi tersembuhnya hati itu yang menjadi sebuah keceriaan.






Tidak ada komentar:

Posting Komentar